Beranda Berita Utama Prilaku Kekerasan adalah mundurnya sebuah Peradaban

Prilaku Kekerasan adalah mundurnya sebuah Peradaban

Oleh : Vetris

Prilaku kekerasan yang saat ini terjadi sudah sangat mengkhawatirkan. Terlebih korban dari tindak kekerasan itu justru mengarah pada tokoh agama. Padahal mereka adalah orang – orang baik yang jauh dari hingar bingar politik dan sudah sepatutnya kita hormati apapun latar belakang agamanya. Terlebih lagi, mereka hanya sekedar menjalankan dan menyampaikan apa yang diperintahkan Tuhan melalui kitab suci. Bahkan didalam melaksanakan tugasnya, mereka dilarang untuk memaksakan apa yang harus disampaikan.

Mereka adalah orang-orang yang berilmu dan tahu bagaimana cara menyampaikan dengan damai tanpa harus menggunakan kekerasan.

Syiar yang dilakukan para ulama, pendeta, bikhsu dll bukanlah tugas kekerasan, melainkan ajaran kasih dan kedamaian. Adapun jika diantara mereka ada yang melakukan kekerasan, atau menjadi corong kekerasan, hal itu tak lebih dari pesan politik para elit yang disampaikan untuk kepentingan didalam pertarungan politik. Dan sejak lama kita tahu, bahwa prilaku para elit politik acapkali menggunakan para tokoh agama untuk memburamkan mana yang halal dan mana yang haram. Agitasi dan propaganda kotor disusupi untuk membentuk opini publik, hingga banyak sekali penjualan ayat dan dogma agama untuk kepentingan politik.

Baca Juga : 

  1. Peringatan Keras Kepada Pemerintah, atas Penyerangan Rumah Ibdah
  2. PMKRI Sesalkan Peristiwa di Gereja St. Lidwina
  3. Pelaku Penyerangan Gereja St. Lidwina Bedog Membawa Sajam
  4. Surat Tirta Yasa Kepada Sri Sultan Hamengkubuwono

Efek radiasi politik terhadap agama ternyata sulit dibendung, hingga akhirnya para pengikut dengan loyalitas buta melaksanakan perintah tanpa melihat sisi toleransi. Berlaku menjadi yang paling benar, meski prilaku kesehariannya jauh dari unsur agama.

Patut kita sadari juga, bahwa agama adalah gudangnya toleransi. Mereka yang selalu menjual nama Tuhan untuk kekerasan adalah orang-orang yang malas mencari referensi ilmu. Dilain pihak, justru ada oknum tokoh agama yang malah mengompori, dimana seharusnya mereka memberi penyadaran terhadap prilaku ajaran yang salah dan belum lengkap diterima. Bahkan tak jarang para tokoh agama ini berlaku subyektif atas apa yang dinilainya.

Metodelogi kemajuan peradaban berbanding lurus dengan majunya ilmu pengetahuan, khususnya ilmu yang berkaitan dengan nalar kemanusiaan. Namun jika ilmu pengetahuan itu tak dipelajari dan diterapkan, maka akan timbul hukum barbar. Kekerasan terus terjadi, mengingat para pelakunya adalah mereka yang minim ilmu.

Sebagai manusia yang beradab, maka sudah sepatutnya kita banyak mencari dan mempelajari ilmu. Sebanyak apapun referensi yang didapat, maka kita akan bisa membandingkan, apa yang harus dilaksanakan dan apa yang perlu diabaikan.

Penulis adalah Pembina Pramuka diberbagai Sekolah Menengah Umum, selian itu penulis juga sebagai pemerhati sosial dan aktif diberbagai organisasi sosial masyarakat. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan berikan komentar Anda!
Masukan nama anda disini