Beranda Berita Utama Peringatan Keras Kepada Pemerintah, Atas Penyerangan Rumah Ibadah

Peringatan Keras Kepada Pemerintah, Atas Penyerangan Rumah Ibadah

Peringatan Keras Kepada Pemerintah, Atas Penyerangan Rumah Ibadah
Sumber Foto : Tribun Jogya

Peringatan Keras Kepada Pemerintah, Atas Penyerangan Rumah Ibadah

Oleh : Muda Saleh

Peristiwa penyerangan yang terjadi di Gereja Santa Lidwina, Selman, Yogyakarta jelas merupakan tindakan yang tak bisa ditolerir, karena selain melukai sejumlah orang peristiwa tersebut jelas merusak jalannya ibadah umat gereja. Ada hal yang menjadi sorotan pada peristiwa ini adalah satu hari setelah presiden Joko Widodo menggelar silaturrahmi dengan pemuka agama di Istana Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (10/2/2018) lalu.

Bahkan di hari yang sama perisitiwa penolakan terhadap biksu Mulyanto Nurhalim di Desa Babat, Kecamatan Legok.Tangerang sempat menyita perhatian masyarakat meski akhirnya dapat diselesaikan dengan kekeluargaan.

Baca Juga :

Menyingkapi masalah yang terjadi di Gereja ST Lidwina, Sleman Yogyakarta, tampaknya ini bukanlah masalah yang dianggap tidak serius. Dalam peristiwa tersebut, setidaknya empat orang mengalami luka-luka termasuk Romo Karl Edmund Prier SJ di dalam gereja.

Meski pihak kepoliisan berhasil melumpuhkan pelaku, namun tindakan seperti ini seharusnya sudah menjadi peringatan keras bagi pemerintah agar tidak kembali terjadi pada rumah ibadah dan unsur keagamaan.

Mengutip kompas.com, pada Minggu (11/2/2018) keluarga pelaku (Suliono) yang merupakan warga Krajan, Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, mengatakan pelaku mondok di salah satu pondok pesantren di Jawa Tengah.

Adapun Riyono, Kepala Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran, kepada Kompas.com membenarkan bahwa Suliono adalah salah satu warganya.

Suliono menyelesaikan sekolah di SDN 5 Kandangan dan SMPN 1 Pesanggaran, lalu sempat mondok enam bulan di Banyuwangi. Kemudian dia pindah ke Morowali ikut keluarganya, lalu pindah lagi dan menyelesaikan SMA di Palu.

Saya tak ingin berandai-andai atas peristiwa ini, namun ada yang harus menjadi catatan pemerintah atas setiap peristiwa yang mengandung unsur etnis atau agama di negeri ini, yakni pro aktif jajaran pemerintah terhadap pencegahan tindakan yang mengacu kepada sentimentil antar umat bergama ataupun suku sehingga dapat merusak tatanan kerukunan masyarakat.

“Padahal setau saya presiden Joko Widodo sudah banyak melakukan kunjungan, pertemuan dengan tokoh adat, budaya serta agama di Indonesia, namun yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa masalah ini masih terus terjadi di Indonesia?”.

Seperti halnya dimana Jokowi mengadakan audiensi dengan raja-raja dan sultan di Istana Kepresidenan, Kamis (4/1/2018) lalu. Pemimpin kerajaan dan kesultanan tersebut berasal dari Pulau Sumatera (20 orang), Pulau Jawa (17 orang), Pulau Bali (3 orang), wilayah Nusa Tenggara Timur (5 orang), dan wilayah Papua (2 orang).

Saya meyakini, pertemuan tersebut hanya sebatas pertemuan saja dan tidak ada implementasi yang dijalankan pada jajaran di level bawah pemerintah. Misalnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang seharunya mengambil peran membuat, menciptakan suatu formula untuk merangkul serta menjalankan cita-cita yang diinginkan Jokowi, jika ada, saya masih belum melihatnya, karena sangat penting dan terbukti di lapisan akar rumput masyarakat bisa dikatakan belum terbangun kesadaran antar umat beragama.

Hal ini sangatlah penting karena mustahil jika Jokowi terus memantau satu persatu apa yang ia lakukan karena memang banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan skala priotitas yang lainnya. Mengapa tidak dibuatkan sebuah agenda besar yang dapat menyatukan anak bangsa, dengan memberikan persepsi bahwa Indonesia memang beragam suku dan agama di atas tanah yang sama.

Jika masalah ini berlarut-larut terjadi, tak bisa dielakkan lagi bahwa keberagaman menjadi satu alat untuk memecah belah persatuan negeri ini. Saya berharap juga pada kementerian lainnya untuk menjalankan mandat yang diberikan Jokowi agar pemerintah dapat berjalan sesuai dengan cita-cita kemakmuran bangsa agar dapat bersaing di era globalisasi yang semakin ketat ini.

Selain itu, saya juga berharap presiden tidak terus menerus mengerjakan pembagian Kartu Indonesia Sehat (KIS) Kartu Indonesia Pintar (KIP) serta pembagian sertfikat lahan warga, karena menurut saya hal tersebut bisa di estafetkan kepada kementerian, asal selama pengerjaannya jelas dan nyata. Hal ini akan membuang waktu Jokowi untuk mempersiapkan diri di ajang Pilpres 2019 mendatang, dan ini cukup membahayakan posisi sebagai pertahana.

Pembangunan merata boleh menjadi konsentrasi pemerintah, namun menurut saya yang lebih utama adalah menjaga keutuhan perbedaan yang ada, karena presiden Soekarno jelas memiliki formula terbaik untuk dan agar bagaimana dari Sabang sampai Merauke bersatu, karena satu kebutuhan, yaitu kemerdekaan serta kemenangan.

Jika diberikan kesempatan untuk saran, saya akan menyarankan Jokowi mengganti sektor-sektor penting pada Kementerian yang mengurusi soal keagamaan, kebudayaan , karena tidak ada sama sekali hasil yang maksimal, bisa terlihat dari hoax, ujaran kebencian dan sentimentil agama di negeri ini yang semakin mencemaskan

Disisi lain saya juga mengkritisi sejumlah kebijakan kementerian yang melakukan impor di sektor pangan, dimana Indonesia memiliki harta kekayaan yang melimpah ruah, kebijakan sektor ekonomi yang mungkin beberapa sepakat dan beberapa lainnya juga tidak menyepakatinya. Terlebih kebijakan-kebijakan tersebut keluar disaat jelang Pilpres dan itu saya yakini 100% dapat menggerus elektabilitas Jokowi pada Pilpres 2019 mendatang.

Dua poin yang menjadi catatan pemerintah adalah, kurangnya pro aktif jajaran kementerian soal kebudayaan dan keagamaan, kebijakan kementerian yang melakukan impor diwaktu yang saya anggap tidak tepat. Meski sampai saat ini saya masih meyakini bahwa Jokowi merupakan sosok pemimpin yang paling pantas untuk Indonesia.

Penulis adalah pemerhati sosial dan aktif diberbagai gerakan sosial kemasyarakatan, penulis juga berprofesi sebagai Konsultan Komunikasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan berikan komentar Anda!
Masukan nama anda disini